Salah satu berkah menjadi wirausaha, dan lantas “diduga” memiliki banyak uang, adalah banyaknya kenalan dan saudara baru. Ada yang sekedar ingin berteman, ada yang ingin bersahabat dan sekaligus menawarkan “peluang investasi”. Tidak apa-apa tentu nya. Malah saya berterimakasih sudah diperkenalkan kepada rupa-rupa peluang investasi. Dan rupanya semakin maju peradaban, makin beraneka ragam “peluang investasi” tadi. Mulai dari yang sering kita dengar seperti saham, valuta asing, emas, pompa bensin, properti, dan sebagainya, hingga yang meski tidak pasti usahanya apa, namun pasti dalam menjanjikan keuntungan sekian persen per bulan.
Contohnya, ada tawaran investasi …
Saya memulai membangun usaha pada tahun 2002. Waktu itu saya merasa sudah cukup menjalani karir di bidang perbankan dan kemudian teknologi informasi. Dengan penuh rasa percaya diri, penuh keyakinan, dengan restu orang tua, dukungan istri, dukungan keluarga, teman dan segenap handai taulan, berdirilah perusahaan saya. Yang kemudian ternyata “failure to launch”.
Ya, ibarat mencoba meluncurkan Apollo ke Bulan, boro-boro sampai bulan. Mesin nya saja gak langsung nyala. Masih untung gak sampai meledak.
Tapi itu dulu … Alhamdulillah sekarang usaha IT yang saya tekuni relatif berjalan dengan baik. Ini yang membuat saya sering …
“Cara jualan kamu kuno !” Demikian kata seorang pengusaha senior kepada saya ketika kami sedang berbuka puasa bersama, bulan Ramadan lalu. Saya tergagap. Wah, baru kali ini ada yang mengatakan demikian tentang model bisnis saya. Tapi berhubung beliau jauh … jauh … jauh … lebih berpengalaman dibanding saya, dengan usaha yang skala nya ratusan kali lipat usaha saya, saya tidak punya pilihan lain selain mendengar kritikan beliau. Saya menahan nafas menunggu kalimat beliau berikutnya.
Beliau menambahkan, “Kalau kamu bisnis IT, nyuruh pelanggan beli produk, itu bisnis jaman dulu”. Saya mulai paham. …
“Kamu harus percaya pada ku Ma …” Kata seorang suami memelas di depan istri nya yang marah sambil memegang kemeja kantor dengan cap lipstik di kerah nya.
“Percayalah, meski pergi jauh, aku akan kembali dan melamarmu …” kata seorang pemuda, sesaat sebelum meninggalkan pacarnya untuk pergi merantau.
“Kalau proyek ini dipercayakan kepada kami, saya yakin akan selesai sesuai anggaran dan jadwal yang Bapak tetapkan …” kata seorang konsultan kepada klien nya.
“Rakyat tidak lagi percaya dengan pemerintah yang sekarang …”, demikian kata seorang politisi yang ingin dipilih rakyatnya.
Contoh pernyataan-pernyataan di atas berbicara tentang …
Saudaraku …
Saya dapat memahami perasaan Anda. Sesungguhnya bukan hanya Anda, saya pun dahulu juga telah mengalami ujian yang sama. Berusaha dan belum berhasil, tidak punya uang, justru banyak hutang, sudah saya alami.
Padahal sudah membuat daftar impian, tujuan yang pasti, sudah membuat strategi, sudah berani mengambil tindakan … Nekat malah, karena saya melepas pekerjaan saya demi bisnis. Bukan keberhasilan yang diraih, namun justru kesulitan demi kesulitan. Pada waktu itu pun, saya merasakan rasa frustasi yang luar biasa.
Saudaraku …
Pertama-tama harus kita pahami tentang sunatullah, ketetapan Allah yang berlaku sebagai hukum …