Resonansi

Salah satu kompetensi wajib para Cowok di era 80s adalah kemampuan “nyetem gitar”. Tentu selain memainkan gitarnya.

Eh jangan senyum2. Nyetem ini penting, karena kalau gak terstem dgn baik, bakalan diteriakin tetangga kalau lagi gitaran malem2.

Bayangin baru dua genjreng nyanyi “Di radio .. aku dengaar …” tiba2 ada yg teriak “Hoii fales hoii !!” Gak enak banget.

Jadi gimana mau bawain Soldier of Fortune, Always Somewhere atau Angie, kalau gak bisa nyetem. *Aah lagu2 apaaa itu?

Kalau sekarang enak, pakai App di HP proses nyetem lebih mudah. Kalau dulu murni “by ears” plus dibantu garpu tala.

Keren lah emang remaja jaman dulu.

Proses nyetem sendiri buat saya cukup mengasyikkan dan saya nikmati. Dulu pertama yg ngajari Bapak saya.

Pertama tune senar 6 dengan nada E dulu, samakan senar 5 dengan nada A di senar 6, dan seterusnya.

Senar dengan nada sama pasti beresonansi. Bergetar bersama, saling menguatkan.

Dan belakangan baru saya pahami “Ilmu getaran” ini ternyata berlaku di banyak hal.

Terutama saat membangun Tim. Orang dengan “frekuensi” yang sama, pasti juga saling beresonansi.

Coba perhatikan, satu orang dengan frekuensi serba pesimis, serba negatif dalam melihat semua hal, serba melihat orang lain salah, pasti nyambung getarannya dengan orang yg sama. Dan mereka saling menguatkan.

Demikian pula orang dengan “getaran positif”. Orang dengan frekuensi yang serba optimis, fokus sama solusi, ambil alih tanggung jawab, dengan tidak hanya menyalahkan pihak lain, pasti nyambung juga dengan orang dengan getaran yg sama. Dan mereka juga saling menguatkan.

Saya pernah melakukan sebuah group coaching di sebuah perusahaan, dari 7 anggota group, 1 orang frekuensi nya beda sendiri. Yang lain positif, optimis, memandang ke depan cerah. Si Bapak inj serba pesimis, negatif, gelap, berawan, kadang badai dan kilat menyambar.

Saat diskusi selalu seru gara2 satu ini.

Kabar baiknya adalah manusia bisa dipengaruhi. Jadi kalau ada anggota tim yang nada nya masih “fales”, gak se frekuensi sama yang lain, kita bisa pengaruhi bersama.

Gak selalu sih. Ada juga yang saking kuatnya, ibarat senar gitar ya putus. Kalau dalam tim, yang begini akhirnya “out”.

Syukurlah di tim coaching tadi, setelah pertemuan ke 5, yang berubah adalah 1 “senar” yang berbeda tadi.

Anda pun bisa melakukan hal yang sama, perhatikan anggota tim yang “fales”, dan lakukan interaksi yang intens bersama tim lain yg sudah “tuned”.

InsyaAllah merdu.

Fauzi Rachmanto

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading