Kolaborasi

Suatu hari seorang Ibu yang menginginkan anak balita nya menjadi pianis besar mengajak putra nya menyaksikan konser seorang Maestro yang kebetulan sedang datang di kota nya.

Malang, jelang konser dimulai, saat mencari tempat duduk, si anak terpisah dari Ibunya. Dan tidak nampak dimanapun si Ibu melihat.

Lampu mulai dipadamkan, tepuk tangan membahana. Saat pertunjukan hendak dimulai. Dan si anak belum terlihat berada dimana.

Lampu sorot menyala ke arah panggung saat Sang Maestro berjalan tenang menuju Grand Piano nya. Dan disana rupanya, telah duduk si anak yang dicari2 Ibu nya!

Si anak mulai menekan tuts dengan “komposisi” gubahan nya sendiri, khas anak kecil yang senang menemukan mainan. Penonton bergumam.

Sang Maestro dengan tenang duduk disebelah anak tadi. Tersenyum, ke arah anak tadi, dan ikut bermain, menambahkan bass, menambahkan ritme, dan terciptalah sebuah musik indah. Selesai bermain, penonton melakukan standing applause untuk Sang Maestro dan “Bintang Tamu” nya.

***

Tahun2 mendatang pelaku bisnis akan dihadapkan pada tantangan yang akan semakin sulit. Era politik, era disrupsi. Dan kolaborasi adalah kunci untuk tetap bertahan dan menang. Konon katanya begitu.

Tapi apakah kolaborasi itu? Sudahkah kita benar memahaminya?

Yang dilakukan Sang Maestro dalam cerita diatas adalah sebuah kolaborasi.

Kolaborasi adalah bekerja bersama dengan memberikan kepercayaan dan kesempatan pada partner, sekalipun Anda merasa “lebih baik”. Sekalipun Anda adalah Sang Maestro.

Kolaborasi adalah memberikan penghormatan pada partner Anda, meski yang dia lakukan dari kacamata Anda tidak tepat. Anda tidak mempermalukannya.

Kolaborasi adalah ketika partner yang kuat mampu mengangkat moral partner yang lebih lemah, untuk bersama menghasilkan karya terbaik.

Kolaborasi adalah ketika Sang Maestro berseria menanggalkan jubah kebesarannya dan bersedia duduk setara dengan partnernya, mendengarkannya, dan membangun interaksi bersama untuk menghadirkan karya indah.

***

Jika Sang Maestro masih memandang diri besar. Tidak menempatkan partner dalam posisi setara, jangan2 kolaborasi yang kita maksud tidak benar2 ada.

Jangan2 kita sebut kolaborasi padahal maksudnya adalah : kamu bekerja untuk saya, untuk kepentingan saya, dengan terms yang saya mau.

Bagaimana menurut Anda? Apakah inisatif kolaborasi yang tengah Anda lakukan adalah sebenar2 kolaborasi?

Anda jawab sendiri. Saya sudahi tulisan ini.

Tulisan ini sudah terlalu serius sebagai catatan.

Fauzi Rachmanto

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading